Minggu, 15 Agustus 2010 | 22:58 WIB

PASURUAN, KOMPAS.com–Suku Tengger di Gunung Bromo memiliki kepala desa wanita untuk pertamakalinya setelah melalui pemungutan suara pemilihan kepala desa di Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pausuruan, Jawa Timur, Minggu.

Nyonya Aidarmiwati terpilih menjadi kepala desa di daerah tersebut mengungguli perolehan suara suaminya, Karnoto dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) yang hanya diikuti sepasang suami istri, Karnoto dan Aidarmiwati itu.

 

Dari 2.175 warga yang mempunyai hak pilih, Aidarmiwati mendapat 1.483 suara, sedangkan Karnoto suaminya hanya mendapat 430 suara. Sisanya sebanyak 85 warga tidak datang.

Pejabat Sementara Kepala Desa Wonokitri Margono menyebutkan, kejadian tersebut bukan perebutan kepemimpinan yang sebenarnya di dalam Suku Tengger di Gunung Bromo. Kejadian tersebut, lanjutnya, hanya sekadar untuk memenuhi persyaratan domokrasitisasi kepemimpinan.

Sebab, kata Martgono, sebagian besar warga Suku Tengger di Gunung Bromo kurang tertarik untuk saling bersaing memperebutkan kursi kepemimpinan.

Dijelaskan, sistem kepemimpinan di dalam Suku Tengger di Gunung Bromo berjalan, dan lahir secara alami. Warga sudah saling memaklumi, karena menjadi pemimpin Suku Tengger juga mempunyai konsekuensi yang cukup berat.

Selain mampu menjadi kepala pemerintahan di desa, juga mampu menjadi tokoh adat yang mempunyai tugas untuk terus melestarikannya. “Kepala Desa juga harus mampu mengurusi, mulai ritual yang sifatnya pribadi, hingga ritual adat yang secara umum atau massal,” katanya.

Ia mengatakan, menjadi kepala desa di Wonokitri itu tidak mendapat gaji atau tanah ganjaran (bengkok) seperti hak-hak yang diterima kepala desa lainnya. Kepala Desa Wonokitri hanya menerima tunjangan perangkat desa sebesar Rp1 juta per bulan.

Dijelaskan, saat pendaftaran calon kepala desa dibuka, hanya Aidarmiwati saja yang mendaftar. Untuk memenuhi syarat demokratis, yakni calon tidak boleh tunggal, maka sehari menjelang masa pendaftaran ditutup, menyusul suaminya, Karnoto mendaftarkan diri.

Jadilah sepasang suami istri tersebut harus duduk bersanding di panggung pemilihan Kepala Desa Wonokitri. Meski demikian, proses pemilihan kepala desa yang juga terus dikawal oleh para mangku (pemimpin agama) berjalan semarak.

Hampir seluruh warga Desa Wonokitri, hari itu, libur bertani ke ladang. Mereka berbondong-bondong antre ke Pendapa Agung Wonokitri untuk menyalurkan hak aspirasinya.